Ahok-Djarot Unggul: Mimpi Memenangkan Pilkada Satu Putaran menjadi Nyata

Pagenews.co - Panasnya suhu politik di DKI Jakarta menjelang pilkada serentak tahun 2017 merambat ke mana-mana. Gara-gara Ahok, perhatian orang dari semua daerah tersita ke Jakarta. Padahal, selain di Jakarta, pada saat yang sama akan ada juga pilkada di daerah-daerah lain. Sayangnya, pilkada di daerah lain luput dari pemberitaan media.

Selama kampanye, Ahok-Djarot selalu mendengung-dengungkan untuk memenangkan pilkada satu periode saja. Apakah itu cuma mimpi? Tentu saja tidak. Mereka sudah membuat perhitungan-perhitungan sebelum akhirnya mengeluarkan pernyataan yang bombastis itu.

Ahok-Djarot tahu dan percaya bahwa mayoritas pemilih di Jakarta adalah pemilih yang cerdas. Pemilih yang cerdas tahu memilih yang terbaik. Mereka akan memilih orang yang sudah memberikan bukti, bukan janji. Ahok-Djarot sudah memenuhi keinginan para pemilih cerdas itu. Makanya, mereka berani mengatakan bahwa mereka akan memenangkan pilkada DKI satu putaran saja.

Harapan Ahok-Djarot itu tentu akan menjadi khayalan semata jika tidak didukung oleh alasan dan data yang valid. Ternyata tidak muluk-muluk, menurut hasil perhitungan elektabilitas versi Sentigram yang diperoleh dari sentigram.org pada hari Senin (6/2/2017) menyebutkan bahwa Ahok-Djarot unggul di 49.82 persen disusul Anies-Sandi 29.95 persen dan Agus-Sylvi diposisi 20.23 persen. Bahkan, setelah acara “Konser Gue2”, elektabilitas Ahok naik hingga lebih dari 50 persen.

Hasil survey itu baru beredar kemarin, artinya dibuat beberapa hari menjelang pilkada. Jika hasil survey itu tepat, maka bisa dikatakan bahwa setengah dari jumlah pemilih di DKI Jakarta akan memilih pasangan Ahok-Djarot pada pilkada mendatang. Itu berarti pasangan cagub-cawagub dari nomor urut dua itu akan menang satu putaran seperti yang mereka inginkan selama ini.

Saya berpikir bahwa cukup beralasan jika pasangan Ahok-Djarot akan memenangkan pilkada DKI satu putaran. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan alasannya:

Pertama, Ahok-Djarot Memberi Bukti, bukan Janji

Sebagian besar pemilih di Jakarta adalah pemilih yang cerdas. Daya kritis mereka berada di atas rata-ata. Mereka tahu memilih yang terbaik. Mereka tahu mana cagub-cawagub yang benar-benar tulus, mana yang cuma modus, dan mana yang manis di bibir saja.

Masyarakat yang cerdas seperti di Jakarta pasti memilih pemimpin yang siap bekerja, bukan pemimpin yang pandai mengumbar janji. Tampaknya, semakin tinggi janji yang diberikan, semakin kecil peluang bagi orang bersangkutan untuk dipilih di Jakarta.

Kita tidak boleh berbohong bahwa selama Ahok dan Djarot menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, rakyat sudah merasakan adanya perubahan di Jakarta, misalnya banjir di Jakarta mulai berkurang dan kota Jakarta terlihat lebih bersih dari sebelumnya.

Kedua, Ahok Dikenal sebagai Gubernur yang Tegas

Bukan rahasia lagi bahwa Ahok dikenal sebagai pemimpin yang tegas, bahkan terkadang dianggap keras sehingga mau tidak mau menabrak banyak orang yang merasa kepentingannya terganggu. Nah, orang-orang inilah yang sampai sekarang merongrong posisinya. Namun, meski sebagian orang tidak suka dengan sikap Ahok yang tegas itu, toh mayoritas penduduk Jakarta justru senang dengan cara Ahok menghadapi orang-orang yang selama ini menyalahgunakan wewenang. Ahok tidak segan-segan menghardik atau bahkan memecat pegawainya yang terbukti lalai melaksanakan tugas dan kewajibannya. Sikap Ahok itu ternyata membuat banyak orang senang.

Ketiga, Rakyat Semakin Bersimpati terhadap Ahok

Sebelumnya elektabilitas Ahok sempat jatuh akibat isu penistaan agama. Sekarang, mulai muncul kecurigaan bahwa aksi unjuk rasa yang selama ini terjadi ditunggangi oleh aktor intelektual yang sengaja ingin menjatuhkan Ahok. Kecurigaan itu membuat orang bertanya kembali, “Apakah benar Ahok menista agama?”

Setelah mengikuti sidang demi sidang kasusnya, sekarang orang tahu secara terang-benderang bahwa Ahok adalah korban kepentingan politik orang atau kelompok tertentu. Kasus yang menimpa dirinya saat ini sengaja dipelintir supaya dia kalah pada pilkada nanti. Maka dari itu, sekarang, simpati orang justru mengalir ke dirinya.

Berdasarkan hasil survey dan alasan-alasan itu, maka bisa dipastikan bahwa kemenangan Ahok-Djarot satu putaran bukan mimpi atau khayalan semata. Yang terpenting mereka harus waspada terhadap segala bentuk kecurangan saat pilkada nanti. (seword)




Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)
loading...

Populer