Ahok, Gubernur Yang Didoakan SBY

Pagenews.co - Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mendoakan agar Jakarta mempunyai gubernur yang baik hati. Doa itu diungkapkan lewat lagu Munajat Cinta milik The Rock. Bagian refrain lagu tersebut diubah SBY.

“Tuhan kirimkanlah aku gubernur yang baik hati, yang mencintai rakyatnya, apa adanya,”. Doa lewat lagu tersebut dipanjatkan SBY saat menghadiri acara Dies Natalis ke 15 Partai Demokrat di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2/2017) malam.

Hanya bagian itu yang diubah SBY. Lirik pada bagian awal Munajat Cinta tidak diubahnya. Para kader Demokrat ikut bernyanyi bersama Mantan Presiden keenam Republik Indonesia tersebut. Termasuk Agus Harimurti Yudhyono, putra SBY.

Tentunya, doa dalam bentuk lagu itu dipanjatkan dalam konteks Pilkada DKI Jakarta. Agus Harimurti Yudhyono bersama Sylviana Murni adalah salah satu kontestan pemilihan gubernur Jakarta. Agus berkompetisi melawan pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saeful Hidajat (Ahok-Djarot) dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi).

Menjelang hari H pencoblosan, tanggal 15 Februari 2017, wajar saja jika SBY makin harap-harap cemas. Apalagi beberapa survey terakhir menunjukkan Agus-Sylvi berada di posisi buncit.

Akhir Januari lalu, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis survey terkait Pilkada DKI. Hasilnya elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama–Djarot Saiful Hidayat berada di peringkat pertama dengan angka sebesar 34,8%. Diikuti elektabilitas Anies Baswedan–Sandiaga Uno sebesar 26 ,4%. Terakhir Agus Harimurti Yudhoyono–Sylviana Murni dengan elektabilitas sebesar 22,5%

Survey Pupoli Center, awal Februari ini, menemukan elektabilitas Ahok-Djarot berada di peringkat pertama dengan persentase 40%, disusul oleh Anies-Sandi dengan 30,3% dan Agus-Sylvi sebesar 21,8% di posisi ketiga.

Dengan kalkulasi pilkada DKI akan berlangsung dua putaran, pasangan Agus-Sylvi terancam terdegradasi di putaran pertama. Hasil survey SMRC dan Populi Center mengindikasikan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi yang akan bertarung di putaran kedua.

Doa SBY sebagai ayah dan ketua umum Partai Demokrat, memang ditujukan untuk putranya, Agus. Namun jika kita menempatkan SBY sebagai Presiden keenam Republik Indonesia yang menempatkan kepentingan bangsa, dalam hal ini warga Jakarta, di atas kepentingan partai dan pribadi, maka doa itu sebenarnya tertuju untuk kemenangan Ahok-Djarot. Semua kriteria gubernur yang baik hati itu ada pada Ahok-Djarot. Agus-Sylvi belum memenuhi kriteria gubernur yang baik hati seperti doa SBY.

Agus Bukan Calon Gubernur Ideal

Agus belum memahami permasalahan dan solusi Jakarta. Dalam isu pendidikan, Agus berjanji meneruskan program KJP. Namun saat ditanya teknis pelaksaan KJP, Agus belum bisa tegas menjawab. Terkait masalah tranpsortasi publik, Agus ingin menggratiskan bis transjakarta. Namun saat ditanya detil asal biayanya, Agus mengaku masih harus menghitung.

Agus mengiming-imingi untuk menjadikan sungai Ciliwung seperti sungai-sungai di Venezia. Ciliwung akan ditata seromantis mungkin. Sehingga anak muda bisa bermusik dan berdansa di pinggir sungai Ciliwung. Namun lagi-lagi, Agus belum punya rincian rencana mewujudkannya.

Agus berjanji akan menata bukan menggusur pedagang kaki lima (PKL). Lagi-lagi janjinya masih normatif. Agus mengaku punya solusi mengatasi problem transportasi Jakarta. Namun solusi yang ia maksud, belum jelas.

Untuk mengatasi kelemahan memahami masalah dan solusi Jakarta, Agus seringkali menggunakan bahasa asing. Agus, sejauh ini, sudah dua kali terjebak sesat logika. Agus terjebak circular reasoning dan ad hominem. Circular reasoning, saat Agus menjawab solusi masalah transportasi Jakarta. Sedangkan ad homine, saat ia merespon balik kritik Djarot.

Baik dari aspek pemahaman masalah dan solusi Jakarta maupun pengalaman manajerial mengelola kota, Agus Harimurti Yudhoyono belum memenuhi itu semua. Tidak ada alasan rasional untuk menyebut Agus sebagai calon gubernur yang baik hati.

Ahok Gubernur Yang Baik Hati

Berbeda dengan Agus, Ahoklah calon gubernur yang memenuhi harapan SBY. Ada banyak alasan rasional untuk menyebut Ahok sebagai calon gubernur paling ideal dan pantas melayani warga Jakarta untuk lima tahun ke depan. Cukup menggunakan akal sehat sederhana dan hati nurani yang jernih.

Ahok sering dipersepsikan sebagai tukang gusur, ucapannya kasar dan kontroversial. Faktanya, Ahok adalah gubernur yang baik hati. Kepekaan dan kelembutan hatinya yang membuat Ahok beralih dari pengusaha swasta mapan menjadi pejabat publik. Obsesinya adalah mengisi kepala, perut dan dompet rakyat.

Ketidaktegaan Ahok melihat warga tinggal di bantaran kali yang kotor, kumuh dan penuh penyakit membuatnya merelokasi warga ke rumah susun dengan segala fasilitas yang sangat layak. Ahok tidak menggusur warga lalu membiarkan mereka terlunta-lunta.

Melihat siswa-siswa tidak mampu gagal melanjutkan sekolah, hati Ahok tersentuh. Dengan kewenangan yang dimiliki, Ahok menggelontorkan uang sebesar Rp 2,5 trilliun untuk Kartu Jakarta Pintar (KJP).

Subsidi KJP tersebut bukan hanya untuk membayar iuran sekolah tapi juga membeli daging murah, kacamata, naik Transjakarta gratis dan fasilitas pendukung sekolah lain. Ahok ingin siswa miskin bisa menikmati fasilitas yang sama dengan siswa yang lebih mampu.

Hasilnya, angka putus sekolah di DKI Jakarta makin turun. Jakarta kini menuju bebas putus sekolah. Tidak puas sampai level sekolah menengah, Ahok pun meluncurkan beasiswa Kartu Mahasiswa Jakarta Unggul (KJMJ). Total subsidi KJMJ mencapai Rp18 juta per mahasiswa miskin.

Melihat penderitaan warga miskin yang tak mampu berobat saat sakit, kelembutan hati Ahok terbukti. Anggaran kesehatan dinaikkan dari Rp150 milyar di tahun 2013 menjadi Rp865 milyar di tahun 2016. 19 Puskesmas kecamatan ditingkatkan levelnya menjadi rumah sakit kecamatan.

Ahok juga membuat pusat pengaduan dan pelayanan 112. Semacam 911 di Amerika. Warga yang sakit langsung bisa menghubungi 112 untuk dijemput ambulans gratis. Begitupun jika ada warga yang meninggal. Hubungi 112 lalu jenazah akan dijemput mobil jenazah tanpa dipungut biaya.

Masalah pemukiman, kesehatan, pendidikan sampai orang meninggal yang diselesaikan Ahok hanya contoh saja. Ahok juga berhasil mengurusi masalah pedagang kaki lima, pelayanan terpadu satu pintu, normalisasi sungai sampai masalah lampu jalan. Ahok terbukti sebagai gubernur yang baik hati.

Semua kriteria ideal gubernur ideal menurut Amien Rais dan Anies Baswedan dipenuhi oleh Ahok. Amin Rais mensyaratkan gubernur Jakarta haruslah figur yang cinta rakyat kecil, bukan tukang gusur, bukan yang meladeni kepentingan pemodal. Syarat-syarat tersebut dipenuhi Ahok.

Menurut Anies Baswedan gubernur Jakarta yang ideal adalah gubernur yang membangun kota berikut warganya, menegakkan keadilan, menjadikan Jakarta sebagai kota yang beradab dan gubernur yang tegas namun berbudaya. Semua kriteria ideal itu ada pada sosok Ahok.

Oleh karena itu, demi mewujudkan doa SBY, marilah datang ke tempat pemungutan suara pada tanggal 15 Februari 2017 dan memilih Ahok-Djarot. Ahok terbukti sebagai gubernur yang baik hati dan mencintai rakyatnya. Seperti doa SBY. (Jakartaasoy)



Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)
loading...

Populer