Bagian III: Cara Ahok Memenangkan Pilkada

Pagenews.co - Ahok sang fenomenal. Begitulah yang saya amati hingga saat ini. Pilkada Jakarta berpusat pada Ahok. Semua berpikir bagaimana mengalahkan Ahok. Suara Ahok awalnya begitu tinggi, rasanya sulit menemukan saingan yang tepat bagi Ahok. Dia jujur, bersih, berkinerja tinggi, ide-idenya brilian, mungkin hanya Jokowi yang sanggup menyaingi Ahok karena Jokowi lebih hati-hati dalam memilih kata.

Dan benar saja kelemahan Ahok adalah pada mulutnya. Bagi saya bukan karena dia berkata kasar, itu hanya image yang dilebih-lebihkan oleh lawan Ahok. Tapi Ahok berbicara tanpa berpikir panjang, dia orangnya memang apa adanya. Sehingga ucapannya mudah sekali dipelintir lawan-lawannya lalu digoreng hingga gosong. Itulah yang selama ini selalu terjadi dari isu merobohkan mesjid, pelarangan menggunakan jilbab, dan lain-lain. Semua berawal dari kelemahannya dalam menyusun kata-kata yang kemudian dipelintir oleh lawan-lawannya.

Isu penistaan agama diawal kampanye disebabkan susunan katanya yang diluar kebiasaan lalu dipelintir oleh lawan-lawannya. Sejak itulah perolehan suaranya mulai tergerus. Banyak pemilih muslim yang semula berpikir tidak masalah dipimpin non-muslim menjadi tersinggung dan lebih memilih Agus. Sebenarnya pemilih seperti ini adalah pemilih rasional namun agama menjadi prioritas ketika tersinggung. Suara Ahok jatuh dibawah Anies dengan rangkaian demo besar 411 dan 212. Pendukung Ahok sebagian pindah ke Agus dan sebagian lagi wait and see.

Kelebihan Ahok adalah dia petahana dengan kinerja yang bagus. Strateginya cenderung bertahan, wajar karena selalu diserang. Seolah-olah nothing to lose, “Kalau ada yang lebih baik jangan pilih saya” sebenarnya strategi bertahan yang baik. Orang yang berpikir akan langsung menganalisis hasil kerjanya ketika mendengar ucapan tersebut. Ahok terus menerus mengandalkan hasil kerjanya dan kejujurannya dalam memimpin Jakarta selama ini. Maka dari itu pemilih rasional cenderung memilih Ahok.

Namun Ahok harus menghadapi serangan penistaan agama. Isu itulah yang merenggut suaranya. Cara Ahok mengatasi masalah tersebut juga sangat baik. Ahok menunjukkan dirinya tidak bersalah dengan tidak takut datang ke Bareskrim untuk diperiksa. Serangan penistaan agama dia hadapi langsung, frontal karena memang orangnya pemberani. Dengan begitu pendukung setianya akan tetap setia meskipun ia muslim. Orang akan berpikir kalau dia tidak takut artinya ia benar. Dan cara tersebut berhasil menahan suaranya untuk tidak terus ambruk. Setidaknya dia masih punya pendukung setia yang saat itu berubah menjadi militan.

Pengadilan adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini. Itu sebabnya ia tidak ingin pra-peradilan, ia ingin maju ke pengadilan, ia ingin pengadilan terbuka seperti Jessica, ia ingin membuka semua ini di pengadilan. Karena ia tau bahwa dirinya tidak bersalah.

Kampanye Ahok sempat tersendat dengan penolakkan-penolakkan. Agus sangat diuntungkan dengan masalah ini. Tekanan terhadap Ahok begitu hebat, demo demi demo terus bergulir untuk menjatuhkannya. Ahok hanya bisa bertahan dan terus bertahan. Ahok harus meluruskan masalah penistaan agama ini yang digunakan oleh musuhnya untuk menjatuhkannya. Dan seiring dengan waktu pengadilan membuka mata masyarakat. Dalam waktu singkat suara Ahok mulai pulih.

Selain pengadilan, debat juga merupakan titik balik Ahok. Pengetahuannya tentang permasalahan Jakarta dan ide-ide briliannya memikat banyak hati warga Jakarta. Isu penistaan juga mulai mereda, melihat ini Ahok dalam debat-debatnya mencoba menahan diri untuk tidak terlalu menyerang lawan-lawannya. Jangan sampai serangannya dipersepsikan lain oleh warga DKI yang mulai terbuka matanya. (Plt) Gubernur DKI Jakarta Sumarsono juga menguntungkannya. Warga Jakarta seolah-olah dihadapkan dengan kondisi Jakarta yang tanpa Ahok. Sungai kembali tercemar, pedangang kembali mengambil jalan. Dan yang paling menyakitkan adalah warga Jakarta melihat bagaimana tanpa Ahok DPRD ramai-ramai mencoba merampok uang rakyat.

Ahok terlihat cemerlang saat debat. Dia paham betul permasalahan Jakarta dan dia juga punya solusinya untuk itu. Tidak hanya ide-ide saja, dia juga mampu merealisasikan ide tersebut. Ahok paham kelemahan lawannya, Agus terlalu hijau dan Anies yang terlalu mengawang-ngawang. Ahok tampil apa adanya dengan bahasa yang mudah dipahami publik. Menunjukkan kepada publik bahwa dirinya paling tahu masalah Jakarta karena berpengalaman dan dirinya punya solusi yang bisa ia kerjakan. Sangat kontras dengan pasangan lainnya.

Strategi bertahan Ahok sejauh ini berhasil. Image dia perlahan pulih yang semula tergerus isu penistaan agama. Sasaran utama Ahok adalah menang satu putaran karena jika sampai dua putaran Ahok bisa saja kalah. Walaupun peluang kalahnya masih fifty-fifty. Ahok dipastikan akan berhadapan dengan Anies “baru” jika strategi Anies berhasil memaksa Pilkada menjadi dua putaran.

Meski ingin satu putaran namun nampaknya agak sulit melihat kondisi saat ini. Image Ahok baru saja pulih dari penistaan agama lalu sempat sedikit tergerus oleh isu penistaan ulama. Agaknya sulit untuk Ahok menang satu putaran. Jadi sebaiknya Ahok siap-siap menghadapi putaran kedua. Ahok akan menghadapi Anies pada putaran kedua dan harus bisa merebut suara pendukung Agus yang kalah. Agak sulit memang karena Anies telah menempati satu kaki disana, jadi kemungkinan besar pendukung Agus akan berpindah ke Anies. Jika tidak bisa diantisipasi maka akan ada kemungkinan Ahok kalah pada putaran kedua. (Seword)




Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)
loading...

Populer