Debat Final: Serangan Mematikan Ahok-Djarot

Pagenews.co - Berbeda dengan debat kedua, pada debat ketiga Ahok mulai agresif menyerang pasangan lain. Bahkan ada satu kejadian ketika ia menyerang balik kedua paslon lainnya sekaligus.

Ahok pada debat terakhir mulai terlihat garang. Saat diserang soal program bagi penyandang disabilitas Ahok dengan telak berhasil menyerang balik Agus dan Anies. Agus mengatakan akan memasang CCTV sedangkan Sylvi berkata bahwa penyandang disabilitas tidak dipekerjakan di kantor pemerintah. Anies menyerang dengan pengembangan fasilitas yang tidak melibatkan penyandang disabilitas.

Ahok meluruskan pendapat Anies dan Agus bahwa lebih dari 5000 CCTV sudah terpasang, 1% posisi PNS dialokasikan untuk penyandang disabilitas. Dan dalam dewan pengembangan fasilitas ada satu orang penyandang disabilitas. Standar fasilitas pun mengacu pada standar di Jepang untuk penyandang disabilitas. Sampai-sampai Ahok berkata bahwa pasangan lain suka bikin opini yang menyesatkan.

“Mohon maaf banyak data yang sesat”.

“Tidak ada disabilitas menjadi PNS yang bekerja… Aduh, ibu Sylvi kemana aja ? ”

Sesi selanjutnya, Mpok Sylvi menuduh Ahok melakukan kekerasan dalam bentuk verbal. Ahok menjawab

“Beginilah kalau gak ada program, jadinya fitnah.”

“Bagaimana bisa orang yang katanya melakukan kekerasan pada perempuan, tapi banyak ibu-ibu yang mau foto bersama saya?”.

“Itu satu kasus penyelewang KJP, kasus satu yang dibesar-besarkan, jadi gak perlu fitnah-fitnah lah…”

“Paslon satu ini programnya ngawang-ngawang….”

Debat kali Ahok-Djarot menggunakan Jurus Naga Bangkit Mengibaskan Ekornya. Lalu mental lah Agus dan Anies sejauh 100 meter.

Giliran Djarot bertanya ke Anies. Djarot pun agresif membuka pertanyaan dengan menasihati Anies jangan obral janji. Jangan banyak janji tapi tidak bisa direalisasikan. Memang Anies selama ini dikenal banyak ide minim kerja. Banyak yang percaya itulah penyebab Anies diberhentikan oleh Jokowi. Ngomong cantik tapi kinerjanya gak cantik. Djarot kemudian mempertanyakan soal rumah tanpa uang muka secara teknis dan soal peraturannya. Anies menjawab tapi tidak menjawab, hahaha.

Ahok membantah hitungan Anies bahwa cicilan tanpa DP tidak mungkin, apalagi selama 30 tahun “Berapa kali ganti Gubernur itu?”. Saat Uno menanggapi tetap saja soal peraturan tidak ditanggapi malah tetap ngotot dengan jangka panjang itu bisa, “Hitungannya ada” katanya tapi gak dijelasin.

Dengan cerdik Ahok-Djarot membongkar janji-janji palsu pasangan lain. Janji-janji yang tidak mungkin dapat direalisasikan. Sementara Agus cenderung membosankan, serangannya gak jauh dari gusur-gusur dan marah-marah.

Giliran Djarot bertanya ke Agus, bagaimana soal rumah apung, dan bagi Sylvi bagaimana tidak terjadi penyalahgunaan dana 1 milyar. Serangan yang cantik karena Sylvi sedang terseret kasus korupsi. Agus menjawab bahwa mengenai program dia yang rumah apung adalah hoax. Hahaha Hoax? apa perlu saya kasih rekamannya gus? Ada dimana-mana itu. Soal korupsi intinya jangan terlalu curiga kepada rakyat kata Agus.

Djarot menyerang lagi soal bagaimana teknis kontrol dana 1 milyar dan mengakhiri dengan baik “Jangan jebak rakyat untuk korupsi.” Kata Djarot. Agus menjawab lagi-lagi dengan jawabannya yang ngawang-ngawang, dan jangan curiga sama rakyat. Kalo saya tanggapi, gak heran jaman bapaknya banyak yang korupsi, sistem kontrol kok dibilang mencurigai. Masa uang sebanyak 1 miliar akan dibagikan tapi gak disertai rencana untuk mengkontrolnya supaya tidak dikorupsi, hahaha. Emangnya uang nenek mu gus, itu uang rakyat.

Sesi berikutnya agak lucu karena masing-masing pasangan harus menyebutkan kelebihan dan kekurangan pasangan lainnya. Dan serangan pada sesi ini lebih sadis lagi dari Djarot. Pasangan nomor 1 ngawang-ngawang tapi percaya bisa melaksanakannya. Pasangan nomor 3 (Pak Djarot sempat salah sebut) banyak ide tapi implementasinya kurang cepat sehingga diberhentikan dari Menteri. Anies memilih menjawab layaknya motivator sementara Agus mencoba menyerang tapi kurang greget.

Closing statement dari Anies juga ngarang, mengatakan bahwa warga Jakarta ingin Gubernur baru, lalu dilanjutkan dengan ceramah-ceramah keagamaan. Nampaknya ini tanda bahwa Anies sedang menembak warga Jakarta muslim yang berpikiran “pokoknya harus muslim” dengan tampil alim.

Agus lagi-lagi menyerang soal kekerasan, ucapan yang memecah belah (cenderung tuduhan sepihak ini). Lalu lanjut dengan ngawang-ngawang, dan lagi-lagi gerilya. Bahkan pasangan ini saat closing statement-nya membosankan.

Ahok dengan cantik memperlihatkan foto Kalijodo yang sudah berubah menjadi taman cantik yang tadinya tempat perempuan dijual dan narkoba diperjual-belikan. Dan langsung menyerang soal paslon 1 dan 3 yang ingin jadi Gubernur tapi membolehkan semuanya, melanggar aturan yang sudah dibuat. Katanya ibarat om dan tante bertamu kerumah, jangan merusak yang aturan yang dibuat oleh orang tua. Susah mendidik anak-anak.

Closing yang sangat tegas dari Ahok.

Saya rasa lagi-lagi Ahok menguasai perdebatan kali ini. Anies mencoba mengimbangi tapi serangan balik dari Ahok memukul telak Anies. Anies tetap kesulitan menurunkan ide-idenya ketataran teknis. Sementara Ahok terlihat memiliki pengetahuan luas untuk mengatasi permasalahan Jakarta. Sementara Agus meski bicara soal kreatif tapi materi debatnya tidak kreatif. Serangannya selalu kesosok Ahok yang dia katakan kasar dan tukang gusur tapi tidak sanggup menyerang program Ahok. Setiap kali mereka mencoba menyerang program Ahok malah mendapat serangan balik yang mematikan dari Ahok. (Seword)




Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)
loading...

Populer