Model pilpres Amerika Serikat, Ahok Menang Telak 80%

Pagenews.co - Pencoblosan Pilkada DKI sudah selesai, tinggal penghitungan suara. Rekapitulasi suara pemilih Pilkada DKI versi KPU baru berjalan di tengah jalan. Hasil penghitungan suara oleh KPU satu-satunya yang diakui sebagai hasil resmi untuk menentukan kemenangan calon gubernur DKI. Bisa gila kita kalau menunggu hasil hitungan suara dari KPU yang keluar dua minggu lagi. Maka untuk sementara, marilah kita menengok hasil hitung cepat dari sumber yang layak dipercaya.

Saya pilih Litbang Kompas sebagai acuan untuk mengetahui pasti jumlah suara yang diperoleh oleh ketiga calon gubernur DKI. Hasil hitung cepat berikut ini :

Tahu sudah hasilnya walaupun bukan resmi, tetapi biasanya hasil hitung cepat hampir selalu persis dengan hasil hitung secara resmi dari KPU.

Sudah kami duga dari awal, suara Agus – Selvi pasti prosotan gegara kicauan Antasari. Tetapi kami kaget , selisih suara Ahok- Djarot dengan suara Anies – Sandiaga sedikit, cuma 3%. Sehingga Ahok – Djarot harus masuk putaran kedua. Kecele , ternyata prediksi kami salah bahkan takabur karena terlalu yakin bahwa Ahok – Djarot menang telak di putaran pertama. Gegara lihat konser gue 2, di mana banyak orang yang hadir. Dibantu juga sidang Ahok terkait penistaan agama , di mana kasus Ahok lebih cenderung dipolitisasi dan kesaksian pelapor palsu.

Baru sadar, tim pendukung Ahok terlalu yakin pada kepopuleran Ahok sehingga bekerja belum optimal malah terlalu santai-santai. Justru saya sangat kagum sama strategi Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) yang berusaha keras memenangkan anaknya , Agus Harimurti Yudhoyono. Bahkan kalau perlu, menghalalkan segala cara, pokoknya deh Agus Harimurti Yudhoyono harus menang.

Saya jadi kesal, lalu otak cangkok saya diajak berkhayal … Seandainya Pilkada DKI memakai model pilpres Amerika Serikat. Sudah kita semua tahu, Presiden Amerika Serikat yang sekarang , Donald Trump , dipilih rakyat Amerika, bukan karena menang jumlah suara perorangan. Tetapi menang jumlah elektoral.

Elektoral yang dimaksud adalah seseorang mewakili sejumlah pemilih satu daerah / wilayah. Misalnya satu kampung ada 200 orang mewakilkan satu orang untuk memberikan suara kepada calon presiden, dihitung sebagai SATU SUARA, bukan 200 suara. Dari 200 orang, 120 orang yang pilih calon presiden A dan 80 orang yang pilih calon presiden B. Karena suara calon presiden A lebih banyak daripada suara calon presiden B. Maka keluar satu suara ( elektoral ) untuk calon presiden A. Pendek kata, satu suara untuk calon presiden A mewakili 200 orang.

Elektoral di Amerika serikat ada 538, mewakili 50 negara bagian. Lawan Donald Trump adalah Hillary Clinton. Menurut hitungan suara perorangan, untuk Hillary Clinton : 65.853.625 sedangkan untuk Donald Trump : 62.985.105. Dan menurut hitungan suara elektoral , untuk Hillary Clinton : 227 dan untuk Donald Trump : 304. Hillary Clinton menang jumlah suara perorangan tapi kalah jumlah suara elektoral. Donald Trump sebaliknya. Mengacu aturan , pemenang pilpres Amerika Serikat ditentukan oleh jumlah suara elektoral terbanyak. Pemenangnya adalah Donald Trump. Tidak seperti model pilpres Indonesia , di mana presiden Indonesia dipilih berdasarkan jumlah suara perorangan terbanyak.

Di Pilkada DKI ada 13.023 tempat pemungutan suara ( TPS ), terbagi-bagi di berbagai daerah. Saya perkirakan, bila dihitung berdasarkan jumlah TPS , pastilah Ahok menang telak 80%. TPS mirip elektoral , di mana satu suara TPS mewakili banyak pemilih satu daerah. Nah, Ahok menang telak di putaran pertama sehingga tidak perlu masuk putaran kedua.

Bangun … bangun … bangun …!!! Pipi saya ditepuk-tepuk, baru tersadar dari khayalan. Kita di sini bukan Amerika Serikat tapi Indonesia. Saatnya berpikir nyata dan positif. Marilah kita gotong royong, bekerja lebih serius demi Ahok heheee … kemenangan Ahok , sebenarnya juga kepentingan kita di masa mendatang. Jangan tanggung-tanggung, jangan mau menang tipis. Harus menang telak telak telak di putaran kedua Pilkada DKI.

Berjuanglah lebih baik melebihi SBY !!! Harus dalam koridor yang benar. Kalau tidak, Ahok bisa tidak senang. (Seword)




Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)
loading...

Populer