SBY Konpers, Ahok-Djarot dan Anies-Sandi Ketiban Durian Runtuh

Pagenews.co - Konferensi Pers SBY, Selasa (14/02), 21:05 WIB

Sejatinya Anies-Sandi belum layak jadi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta jika dibandingkan dengan pasangan Ahok-Djarot.

“Kalkulator” Pak Doktor sering hang, terutama ketika mencla-mencle soal rumah tanpa Depe.

Iya, Depe…!

Bagaimana bisa dibilang layak, wong setelah dihitung-hitung lebih cermat, gagasan awal pasangan Anies-Sandi mengintrodusir rumah tanpa Depe (DP = down payment) itu tak masuk akal. Mula-mula dibilang tanpa Depe, tapi kemudian, masyarakat diminta dulu menabung selama 6 (enam) bulan secara konsisten, untuk kemudian tabungan tadi dikonversi menjadi Depe. Mencla-mencle…!

Saya sudah coba membuat simulasi KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dengan asumsi yang paling pesimistik (rendah). Begini:

Ilustrasi KPR RSS Tipe 36/60
Bagaimana pun ceritanya, karena Anies selalu melontarkan kritik, bahwa kebijakan pasangan Ahok-Djarot seolah lebih memihak kelas menengah-atas, bukannya masyarakat miskin di bantaran-bantaran sungai, ilustrasi tersebut di atas sudah menjawab kegagalan mereka meyakinkan masyarakat miskin itu, karena “kalkulator”-nya sering hang. Heran juga, “kalkulator” Pak Doktor dan ahli keuangan yang mendampinginya kok bisa begitu ya? Mereka tak menguasai betul apa yang diucapkannya secara rinci dan akurat. Beda jauh daripada Ahok.

“Jualan” pasangan Ahok-Djarot ternyata lebih murah dan masuk akal, sehingga paling laris-manis. Sudahlah digratiskan naik busway, beli daging sapi cuma 35 ribu rupiah sekali sebulan, yang masuk perguruan tinggi negeri dikasih 18 juta rupiah per tahun, biaya perawatan kelas III rumah sakit ditanggung penuh, dan warga yang tinggal di rumah susun cukup bayar uang gotong-royong paling banyak 450 ribu rupiah saja sebulan.

Jika harga total rumah sederhana sehat tipe 36/60 adalah 199 juta rupiah, masyarakat miskin harus menabung dulu 4,4 juta rupiah per bulan selama 6 (enam) bulan, karena total pembayaran pertama harus ada 26 juta rupiah. Lantas dari mana uangnya? Apakah mereka masih bisa makan? Bagaimana mereka bisa menuntaskan pendidikan anak? Wallahualam…! Itu pun, jika kemudian diada-adakan, harus mengangsur lagi 1,4 juta rupiah selama 180 bulan atau 15 tahun. Berarti penghasilan bersihnya harus minimal 4,2 juta rupiah per bulan.

Belum lagi soal Depe yang satu lagi. Hingga detik ini, pasangan Ahok-Djarot tak pernah kena kasus “tali air”. Sementara itu, Sandi(aga) yang sangat santun (didikan ibunya yakni Mien Uno, pemilik sekolah kepribadian John Robert Powers) itu, konon pernah meminta Depe (Dewi Perssik) yang mereka tanggap untuk menanggalkan pakaiannya satu-demi-satu di salah satu pesta privat di Bali. Ini meme dan tautan videonya:

Ketiban durian runtuh

Dengan adanya konpers (konferensi pers) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hari Selasa kemarin (14/02), pukul 21:05 WIB, di rumah supermewah yang dihadiahinya untuk dirinya sendiri sebagai mantan presiden itu, konstelasi politik beberapa jam menjelang pilkada hari ini, Rabu,15 Februari 2017, berubah drastik. Yang banyak diuntungkan oleh konpers tersebut bukan pasangan Agus-Sylvi sebagaimana diharapkan SBY, justru pasangan lain yakni Anies-Sandi dan Ahok-Djarot.

Bagi pendukung dan calon pemilih pasangan Agus-Sylvi, yang ada hanyalah semacam konsolidasi suara. Yang dari awal sudah mendukung Agus-Sylvi memang semakin militan. Tapi yang masih ragu-ragu atau belum menentukan pilihan (swing voters dan undecided voters), yang tadinya masih mikir-mikir memilih antara Agus-Sylvi dan Anies-Sandi, justru cenderung lari dan lebih berat ke Anies-Sandi serta sebagian lagi malah memilih pasangan Ahok-Djarot.

Hasil polling beberapa pollster pasca-debat final (Jumat, 10/02) menunjukkan penurunan elektabilitas terus-menerus dari pasangan Agus-Sylvi, sementara pasangan Anies-Sandi dan Ahok Djarot terus meningkat. SBY berpikir, dengan konpers yang dia gelar, muncul simpati masyarakat, khususnya calon pemilih. Tapi suasana batin masyarakat sudah kadung menilai SBY sebagai pribadi yang nyinyir, tukang curhat, playing victim, dan jauh dari sikap gagah-berani seorang jenderal militer. Buktinya, dalam konpers tidak ada tanya-jawab sebagaimana lazimnya. Ini aneh…!

Masyarakat menunggu babak lanjutan setelah Antasari Azhar (AA) meminta kejujuran SBY untuk menjelaskan peran SBY sebagai aktor kriminalisasi yang menyebabkan dirinya (AA) dipenjarakan. Selain itu, terkait pula dengan rencana AA yang tadinya ingin membongkar keterlibatan Ibas (Eddhie Baskoro Yudhoyono) dalam pengadaan IT KPU yang juga mangkrak itu. SBY sudah mengadukan AA ke Bareskrim Polri dan AA sudah menyatakan dirinya berani mati (demi menguak kebenaran).

Yang unik justru ungkapan baru SBY di konpers, “membenarkan yang kuat, bukan memperkuat kebenaran”. Jika ungkapan ini didengar dan disimak oleh AA, justru AA tampaknya ingin memperkuat kebenaran (untuk dirinya) itu. SBY malah menuduh pemerintahan Jokowi –yang kuat– justru membenar-benarkan diri. Bakalan menjadi fitnah pula ini…!

Kami masyarakat Siantar-Simalungun, Sumatera Utara, memiliki falsafah hidup “Habonaron do Bona” (kebenaran adalah dasar [hidup]yang hakiki). Kami tidak berani bermain-main dengan kebenaran itu: katakan benar jika benar, katakan salah jika salah. Kami takut kualat bila kami mendefinisikan “kebenaran” itu sesuai selera sendiri. Sang Kebenaran (dengan huruf “K” besar) adalah Tuhan Allah yang bila kami permainkan, kami akan dilindas habis olehNya. Anda berani??? (Seword)



Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)
loading...

Populer