Spekulasi Konyol PILKADA DKI JAKARTA 2017 Putaran Kedua

Pagenews.co - Saya sebenarnya adalah orang yang cukup realistis dalam berpikir. Terutama dalam hal politik. Saya lebih suka sesuatu yang pasti dan terjabarkan dengan baik dan benar daripada yang terlalu banyak teori-teori yang belum tentu bisa terbukti. Tapi setelah menonton hasil quick count dan berita Antasari akhir-akhir ini, tercetus sesuatu yang jauh dari kata realistis dalam otak saya. Sesuatu yang malah bisa dibilang konyol dan terkesan menggunakan ilmu cocoklogi. Tapi izinkan saya berbagi kekonyolan otak saya dalam membuat spekulasi ini.

Gugurnya sang Mayor di putaran pertama PILKADA DKI 2017 membuat persaingan menjadi DKI 1 menjadi lebih panas. Tersisa dua paslon yang akan saling mengadu program dan strategi dalam memikat hati rakyat. Perbedaan suara dua paslon tersisa ini juga cukup tipis. Ahok-Djarot unggul sekitar 2-3% dalam quick count dari paslon nomor urut tiga, Anies-Sandi. Dengan keadaan seperti ini, kemungkinan keduanya menang dalam putaran dua menjadi sangat mungkin.

Namun dengan keadaan politik yang super panas sekarang, segalanya bisa terjadi. Saya menyaksikan dan terbesit di otak saya sesuatu yang konyol. Sesuatu yang hampir mustahil terjadi. Cocoklagi antara satu kejadian politik dengan kejadian lainnya. Menurut saya ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi suara kedua paslon di putaran kedua nanti. Partai Demokrat, Antasari, dan hak angket.

Sekali lagi saya akan mengingatkan bahwa tulisan ini hanyalah tulisan spekulasi konyol yang penuh dengan ketidakwarasan. Jadi jangan terlalu dianggap serius.

Pertama kita akan membahas tentang partai Demokrat. Partai besar yang mendukung Agus-Sylvi ini tentu akan menjadi kunci dalam kemenangan salah satu paslon. Apabila partai Demokrat langsung mengalihkan setirnya untuk mendukung salah satu paslon dengan sepenuhnya, seharusnya bisa dipastikan paslon tersebutlah yang menang. Melihat perkembangan simpati masyarakat, nampaknya pendukung paslon nomor urut satu tidak akan berpindah haluan untuk memilih pemimpin non muslim kecuali ada arahan dari yang ‘diatas’ (baca: pepo). Nampaknya lebih mungkin bahwa mereka akan memilih paslon muslim lainnya yakni paslon nomor urut tiga, Anies-Sandi.

Foto: CNN Indonesia
Namun, ada satu nama yang mungkin bisa membuat Partai Demokrat mengalirkan dukungannya kepada paslon nomor urut dua. Nama tersebut adalah Antasari Azhar, sang penyanyi yang telah lama dibungkam dalam bui. Nyanyiannya begitu nyaring hingga-hingga dinasti Cikeas bergemuruh. Dengan hadirnya Antasari di tengah-tengah Pilkada, maka ada kemungkinan Partai Demokrat merapat ke paslon nomor dua. Partai Demokrat bisa saja memohon belas kasihan PDIP agar masalah si pepo tidak diperpanjang dan harus berakhir di dalam bui. Mereka bisa meminta Antasari untuk bungkam tentang kasus proyek Hambalang. Sebagai imbalannya, Partai Demokrat bisa saja mengerahkan dukungan dari Agus-Sylvi untuk mendukung Ahok-Djarot di putaran kedua agar sang petahana bisa keluar sebagai pemenang di putaran kedua. Tapi melihat gengsi yang dimiliki oleh sang pepo dan integritas seorang Antasari saya menilai ini adalah hal paling konyol yang bisa terjadi di Pilkada DKI 2017. Hal yang menurut saya tidak mungkin terjadi, tapi juga saya tidak akan kaget kalau SBY tiba-tiba melakukan pertemuan tertutup dengan Jokowi yang merupakan kader PDIP.

Mungkin hal kedua ini adalah yang hal yang lebih realistis. Setelah hanya meraih sekitar 42% di proses pemilihan suara putaran pertama, Ahok-Djarot harus kembali berjibaku dengan Anies-Sandi di putaran kedua. Bagi Ahok-Sandi ini adalah kesempatan emas. Karena selang waktu putaran pertama dan putaran kedua masih lama yakni dua bulan. Ahok-Djarot masih punya waktu untuk menyelesaikan tugasnya dan menunjukkan hasil kinerjanya untuk menggaet hati rakyat. Dengan demikian Ahok-Djarot tidak perlu memohon-mohon bantuan dari partai lain apabila memang rakyat sudah kepincut duluan dengan kinerja Ahok-Djarot selama dua bulan kedepan. Tapi tentunya bukan Ahok namanya kalau tidak ada yang menghalangi dirinya. Hal ini sudah terlihat dari kader Gerindra yang memiliki jabatan di DPR (ex: Fadli Zon) yang memperjuangkan hak angket segetol mungkin untuk memberhentikan sementara Ahok dari jabatannya. Untuk apa? Jelas agar Anies-Sandi lebih mudah pekerjaannya. Ahok tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk memikat hati rakyat agar bisa mendapatkan jumlah suara yang cukup untuk memenangkan PILKADA putaran kedua.

Demikianlah spekulasi konyol nan tidak masuk akal dari saya. Walaupun konyol, apapun bisa terjadi di politik. Kita tinggal bertanya kepada rumput yang bergoyang. (Seword)




Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)
loading...

Populer